Menjaga Rezeki Dengan Bijaksana

Terkini 20 Aug 2026 05:28 • 4 min read • 97 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Menjaga Rezeki Dengan Bijaksana
PerwirasatuNews.my.id, 20 Agustus 2026.Setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada manusia merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaba...

PerwirasatuNews.my.id, 20 Agustus 2026.
Setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada manusia merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Harta bukan sekadar alat memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga sarana beribadah dan menebar kemaslahatan. Karena itu, seorang mukmin dituntut bersikap bijaksana dalam mengelolanya, menghindari pemborosan, serta membelanjakan rezeki sesuai tuntunan Allah agar memperoleh keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Di tengah kehidupan modern, manusia sering dihadapkan pada godaan konsumtif yang begitu kuat. Berbagai promosi, diskon, dan gaya hidup mewah mendorong seseorang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan sekadar mengikuti keinginan. Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan harta demi memuaskan hawa nafsu, sementara masih banyak kebutuhan yang lebih penting, bahkan hak orang lain yang belum ditunaikan. Islam mengajarkan bahwa setiap harta yang berada di tangan manusia bukanlah milik mutlak, melainkan titipan Allah yang harus digunakan secara bertanggung jawab.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur'an:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

"Dan berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra' [17]: 26-27).

Ayat ini menunjukkan betapa beratnya dosa perilaku boros. Allah tidak sekadar melarang pemborosan, tetapi menyebut para pemboros sebagai saudara-saudara setan. Penyandingan ini bukan tanpa alasan. Setan selalu mendorong manusia agar lalai terhadap nikmat Allah, mengutamakan hawa nafsu, dan menjauh dari rasa syukur. Orang yang memboroskan hartanya berarti telah menggunakan nikmat Allah bukan pada tempat yang diridhai-Nya.

Namun demikian, Islam juga tidak mengajarkan sifat kikir. Seorang mukmin diperintahkan mengambil jalan tengah, yaitu bersikap sederhana dalam membelanjakan harta. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya." (QS. Al-Furqan [25]: 67).

Inilah prinsip keseimbangan yang menjadi ciri kehidupan seorang muslim. Ia tidak hidup bermewah-mewahan, tetapi juga tidak menyiksa diri dengan menahan sesuatu yang memang menjadi kebutuhan. Semua dilakukan secara proporsional sesuai kemampuan dan kebutuhan.

Sebelum membeli sesuatu, ada baiknya setiap muslim bertanya kepada dirinya sendiri, "Apakah ini benar-benar kebutuhan atau hanya sekadar keinginan?" Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi benteng agar kita tidak mudah terjebak dalam budaya konsumtif. Banyak barang yang dibeli karena gengsi, mengikuti tren, atau sekadar takut dianggap ketinggalan zaman. Padahal, setelah dimiliki, barang tersebut sering kali hanya tersimpan tanpa manfaat berarti.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas hartanya. Beliau bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya bagaimana diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan." (HR. At-Tirmidzi).

Hadis ini mengingatkan bahwa persoalan harta bukan hanya tentang bagaimana mencarinya, tetapi juga bagaimana membelanjakannya. Rezeki yang halal dapat berubah menjadi sumber penyesalan apabila digunakan untuk kemaksiatan, kemubaziran, atau kesia-siaan.

Orang yang pandai menjaga hartanya bukan berarti cinta dunia, melainkan memahami bahwa setiap rupiah yang dimilikinya dapat menjadi jalan menuju surga apabila digunakan untuk kebaikan. Dari harta itulah ia dapat bersedekah, membantu fakir miskin, membiayai pendidikan anak, merawat orang tua, membangun masjid, mendukung dakwah, dan menolong sesama yang sedang kesulitan. Semua itu akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Sebaliknya, pemborosan hanya akan melahirkan penyesalan. Tidak sedikit orang yang berpenghasilan besar tetapi selalu merasa kurang karena seluruh hartanya habis untuk memenuhi gaya hidup. Sebaliknya, banyak orang dengan penghasilan sederhana justru hidup tenang karena mampu mengelola rezekinya dengan penuh rasa syukur.

Rasa syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan dengan mengucapkan "Alhamdulillah", tetapi juga diwujudkan melalui cara menggunakan nikmat Allah sesuai kehendak-Nya. Orang yang bersyukur akan berhati-hati dalam membelanjakan hartanya, sebab ia sadar bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan yang suatu saat akan ditinggalkan.

Marilah kita membiasakan hidup sederhana, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menghindari perilaku boros, serta menjadikan setiap harta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Semoga setiap rezeki yang Allah titipkan kepada kita menjadi rezeki yang penuh berkah, mendatangkan ketenangan hidup, memperbanyak amal saleh, dan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita menuju kehidupan abadi di akhirat. Aamiin.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News