Mengapa Bawang Membuat Mata Kita Menangis?

Terkini 17 Aug 2026 13:44 • 7 min read • 81 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Mengapa Bawang Membuat Mata Kita Menangis?
PerwirasatuNews.my.id, 17 Agustus 2026.Bawang merah baru saja dibelah. Pisau belum sampai menyentuh talenan untuk kedua kalinya, tetapi mata sudah ter...

PerwirasatuNews.my.id, 17 Agustus 2026.
Bawang merah baru saja dibelah. Pisau belum sampai menyentuh talenan untuk kedua kalinya, tetapi mata sudah terasa panas dan air mata mulai mengalir. Tak ada kesedihan di dapur, hanya reaksi kimia yang sedang berlangsung. Di balik tangisan kecil itu, bawang menjalankan mekanisme pertahanan yang ternyata jauh lebih canggih daripada yang selama ini kita bayangkan.

Mengiris bawang adalah pekerjaan dapur yang hampir semua orang pernah lakukan. Bahan sederhana itu menjadi fondasi banyak masakan, dari sambal, tumisan, sup hingga berbagai hidangan rumahan. Namun ada satu konsekuensi yang membuat aktivitas tersebut berbeda dari memotong wortel atau kentang: mata terasa pedih, berkedip lebih sering, lalu air mata keluar tanpa diminta.

Tempo, dalam artikel “Kiat agar Tak Keluar Air Mata kala Mengiris Bawang”, mengangkat persoalan yang sangat akrab di dapur tersebut dari sisi praktis. Berbagai cara untuk mengurangi air mata memang banyak beredar, tetapi pertanyaan yang lebih menarik justru berada di belakangnya: mengapa bawang dapat membuat manusia menangis padahal tidak ada kesedihan sama sekali?

Jawabannya berada di dalam jaringan bawang itu sendiri. Ketika bawang masih utuh, sejumlah senyawa dan enzim berada dalam kompartemen sel yang terpisah. Ketika pisau merusak jaringan tersebut, pemisahnya ikut rusak. Senyawa yang sebelumnya tidak saling bereaksi kemudian bertemu dan memulai rangkaian reaksi kimia.

ANTARA, 23 Januari 2022, menjelaskan bahwa ketika bawang dipotong, senyawa sistein sulfoksida bertemu dengan enzim alliinase. Reaksi tersebut menghasilkan asam sulfenat. Pada sebagian jalur reaksi, senyawa ini kemudian menghasilkan senyawa organosulfur yang berkontribusi terhadap aroma dan rasa khas bawang. Pada jalur lain, terbentuk faktor penyebab air mata atau lachrymatory factor.

Bagian terakhir itulah yang membuat dapur mendadak menjadi tempat “menangis”. Faktor lachrymatory merupakan senyawa yang mudah menguap. Ketika mencapai permukaan mata, senyawa tersebut merangsang saraf sensorik. Mata kemudian menjalankan mekanisme pertahanannya sendiri dengan memproduksi air mata untuk membantu membilas zat yang mengiritasi.

Library of Congress menjelaskan senyawa iritan tersebut sebagai syn-propanethial-S-oxide. Senyawa itu merangsang kelenjar lakrimal sehingga mata mengeluarkan air mata. Penjelasan ini penting karena memperlihatkan bahwa tangisan saat mengiris bawang bukan reaksi emosional, melainkan refleks biologis terhadap iritan.

Dengan kata lain, bawang tidak sedang “membuat kita sedih”. Ia sedang mempertahankan dirinya, sementara tubuh kita sedang mempertahankan mata. Dua mekanisme pertahanan bertemu dalam satu aktivitas yang tampaknya sepele: pisau memotong umbi, senyawa terbentuk, zat volatil bergerak ke udara, mata mendeteksi gangguan, lalu air mata mengalir.

Di sinilah tips mengiris bawang tanpa menangis perlu ditempatkan secara proporsional. Tujuannya bukan menghentikan seluruh reaksi kimia bawang, melainkan mengurangi jumlah senyawa iritan yang mencapai mata atau mengurangi kerusakan jaringan yang memicu pembentukannya.

Salah satu cara yang paling sederhana adalah menggunakan pisau yang tajam. ANTARA, 23 Januari 2022, menyebut penggunaan pisau tajam sebagai salah satu cara yang dapat membantu mengurangi efek air mata dibandingkan penggunaan pisau tumpul. Secara logis, pisau yang tajam membuat pemotongan lebih terkendali sehingga kerusakan jaringan yang tidak perlu dapat dikurangi.

Namun, pisau tajam bukan jaminan mata tidak akan berair sama sekali. Bawang tetap mengalami kerusakan sel ketika dipotong. Karena itu, klaim bahwa pisau tajam dapat “menghilangkan tangisan” sebaiknya dihindari. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa teknik pemotongan yang baik dapat membantu mengurangi paparan terhadap senyawa iritan.

Cara lain adalah mengatur aliran udara. Jika senyawa yang menyebabkan mata pedih mudah berpindah melalui udara, maka ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi konsentrasinya di sekitar wajah. Membuka jendela atau menggunakan kipas dengan arah aliran yang tepat lebih masuk akal daripada sekadar berharap mata terbiasa dengan rasa pedih.

detikJogja, 2 Agustus 2024, mencantumkan menjaga dapur tetap sejuk dan menggunakan kipas sebagai salah satu cara untuk membantu mengurangi paparan terhadap senyawa pengiritasi. Prinsipnya bukan mengubah bawang menjadi bahan yang tidak menghasilkan iritan, melainkan membantu mengarahkan senyawa tersebut menjauh dari mata.

Mendinginkan bawang sebelum dipotong juga sering direkomendasikan. detikJogja, 2 Agustus 2024, memasukkan pendinginan bawang sebagai salah satu tips. Suhu yang lebih rendah dapat memengaruhi proses pelepasan dan pergerakan senyawa volatil, sehingga dalam kondisi tertentu rasa pedih dapat berkurang.

Tetapi lagi-lagi, pendinginan bukan tombol ajaib. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa memasukkan bawang ke lemari es pasti membuat seseorang bebas air mata. Efeknya dapat berbeda tergantung jenis bawang, kondisi bahan, lama pendinginan dan cara pemotongannya.

Cara yang lebih langsung adalah memberi penghalang antara mata dan bawang. ANTARA, 23 Januari 2022, menyebut kacamata atau pelindung wajah sebagai salah satu pilihan. Secara sederhana, jika senyawa iritan tidak mudah mencapai permukaan mata, rangsangan terhadap saraf sensorik juga dapat dikurangi.

detikJogja, 2 Agustus 2024, bahkan menyebut kacamata khusus untuk memotong bawang sebagai salah satu pilihan praktis. Kedengarannya lucu, tetapi prinsipnya sebenarnya masuk akal. Peralatan tersebut bekerja bukan karena memiliki teknologi khusus yang “melawan bawang”, melainkan karena menciptakan penghalang fisik antara mata dan senyawa yang mengiritasi.

Ada pula cara merendam bawang dalam air sebelum dipotong. detikJogja, 2 Agustus 2024, menyebut perendaman sekitar 10–15 menit sebagai salah satu cara yang dapat dicoba. Namun metode ini memiliki konsekuensi terhadap karakter bawang. Sebagian senyawa dapat berpindah ke air, sehingga rasa dan aroma bahan dapat ikut berubah.

Di titik ini, pembaca perlu membedakan antara tips yang mempunyai penjelasan masuk akal dan klaim yang hanya beredar karena terus diulang. Dunia dapur penuh dengan petua semacam itu. Ada yang diwariskan dari keluarga, ada yang muncul dari pengalaman pribadi, dan ada pula yang menyebar melalui media sosial tanpa pernah diuji.

Masalahnya bukan bahwa semua tips tradisional pasti salah. Masalahnya adalah ketika pengalaman seseorang diperlakukan sebagai hukum yang berlaku untuk semua orang. Jika seseorang merasa menaruh bawang di dalam kulkas membuatnya tidak menangis, pengalaman itu sah sebagai pengalaman pribadi. Tetapi pengalaman tersebut belum otomatis membuktikan bahwa metode itu selalu efektif.

Hal yang sama berlaku untuk jenis bawang. detikEdu, 10 Desember 2021, menjelaskan bahwa jenis bawang yang berbeda dapat menghasilkan tingkat iritasi yang berbeda. Faktor komposisi kimia dan kandungan senyawa sulfur ikut berperan. Karena itu, pengalaman mengiris bawang merah belum tentu sama dengan mengiris jenis bawang lain.

Variasi tersebut memperlihatkan mengapa dapur sebenarnya merupakan laboratorium kecil yang menarik. Satu orang dapat mengiris bawang sambil menangis deras, sementara orang lain hanya merasakan sedikit pedih. Perbedaannya tidak selalu berarti salah satu orang lebih tahan atau lebih lemah. Jenis bahan, kondisi bawang, teknik pemotongan, jarak, sirkulasi udara dan sensitivitas individu dapat ikut menentukan pengalaman.

Yang juga perlu diluruskan adalah anggapan bahwa zat penyebab air mata pada bawang merupakan “racun” yang berbahaya. Dalam konteks mengiris bawang secara normal, masalah utamanya adalah iritasi sementara pada mata. Mata kemudian merespons dengan air mata sebagai mekanisme perlindungan.

Air mata tersebut justru menunjukkan bahwa tubuh bekerja sebagaimana mestinya. Saraf sensorik mendeteksi iritan, kemudian sistem pertahanan mata merespons. Tidak ada drama emosional di sana. Yang terjadi adalah komunikasi sangat cepat antara zat kimia dari bawang dan sistem saraf manusia.

Pengetahuan itu membuat persoalan sederhana di dapur menjadi lebih menarik. Kita sering menganggap sains sebagai sesuatu yang hanya berada di laboratorium, buku pelajaran atau ruang penelitian. Padahal, reaksi kimia yang sama dapat kita temui ketika mengiris bawang di atas talenan.

ANTARA, 23 Januari 2022, menggambarkan proses tersebut melalui pertemuan senyawa dan enzim setelah jaringan bawang rusak. Library of Congress juga menjelaskan peran syn-propanethial-S-oxide dalam merangsang kelenjar air mata. Dua sumber tersebut memperkuat satu kesimpulan sederhana: tangisan saat mengiris bawang mempunyai mekanisme biologis dan kimia yang dapat dijelaskan.

Karena itu, cara paling rasional untuk mengurangi air mata bukanlah mencari “trik ajaib”, melainkan mengendalikan jalur penyebabnya. Gunakan pisau tajam, potong dengan teknik yang baik, perbaiki ventilasi, pertimbangkan mendinginkan bawang, dan jika perlu gunakan pelindung mata. Bila mata sudah terasa sangat perih, menjauh dari sumber iritan dan membilas mata dengan air bersih merupakan langkah yang lebih masuk akal daripada terus memaksakan diri.

Persoalan bawang bukan semata-mata tentang bagaimana membuat mata tetap kering. Ia adalah contoh kecil bagaimana tubuh, tumbuhan dan lingkungan saling berinteraksi melalui proses yang tidak terlihat oleh mata.

Sebuah bawang yang tampak biasa ternyata menyimpan sistem pertahanan kimia. Sebuah mata yang tampak sederhana ternyata memiliki sensor dan mekanisme perlindungan yang sangat cepat. Dan sebuah aktivitas dapur yang berlangsung kurang dari satu menit ternyata cukup untuk memperlihatkan prinsip dasar sains: ketika memahami penyebabnya, kita dapat memilih tindakan yang lebih masuk akal.

Jadi, jika suatu hari mata kembali berair ketika pisau menyentuh bawang, tidak perlu merasa kalah. Bawang sedang menjalankan mekanisme pertahanannya, sementara tubuh sedang menjalankan tugasnya sendiri. Yang berubah setelah kita memahami sainsnya hanyalah satu hal: kita tidak lagi sekadar menangis, tetapi tahu mengapa air mata itu jatuh.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News