Jejak Pulang di Kafe Ubi Brulee

Terkini 10 Aug 2026 20:50 • 5 min read • 78 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Jejak Pulang di Kafe Ubi Brulee
PerwirasatuNews.my.id, 10 Agustus 2026.Aku masih sering mengingat hari ketika aku menyadari bahwa kecerdasan tidak selalu berjalan seiring dengan hal...

PerwirasatuNews.my.id, 10 Agustus 2026.
Aku masih sering mengingat hari ketika aku menyadari bahwa kecerdasan tidak selalu berjalan seiring dengan hal paling sederhana dalam hidup. Suamiku selalu menjadi kebanggaan keluarga karena prestasi akademiknya sejak sekolah hingga universitas ternama. Namun justru dalam hal hal kecil yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas, ia sering terlihat seperti kehilangan arah.

Hari itu Jumat siang terasa biasa saja ketika aku mengantarnya ke masjid besar di pusat kota. Ia turun dengan tenang sambil memastikan bahwa ia akan menemuiku kembali setelah salat selesai. Sebelum berpisah aku sudah mengingatkannya untuk membawa telepon genggam agar kami mudah saling menghubungi. Ia mengangguk tanpa ragu seolah semua sudah terkendali.

Aku pergi ke sebuah kafe kecil tidak jauh dari masjid karena ingin menunggu sambil bekerja. Di kepalaku hanya ada satu hal sederhana yang kuucapkan sebelum ia pergi, yaitu aku ingin mencoba menu ubi brulee yang sedang ramai dibicarakan. Ia tersenyum dan mengingatnya dengan sangat yakin, bahkan mengulanginya sambil berjalan masuk ke arah masjid.

Waktu berjalan lebih cepat dari yang kukira. Setelah jam salat selesai, aku mulai memperhatikan pintu masuk kafe karena biasanya ia selalu datang tepat waktu. Lima belas menit berlalu tanpa kabar membuatku mulai merasa ada yang tidak biasa. Ketika aku mencoba menghubunginya, panggilan itu tidak pernah tersambung dan aku baru sadar bahwa ponselnya tertinggal di mobil.

Kekhawatiran mulai muncul meski aku mencoba menenangkannya dengan berpikir bahwa ia pasti hanya sedikit bingung. Aku mengenalnya sebagai orang yang sangat pintar dalam hal akademik tetapi sering tidak fokus pada hal yang bersifat praktis. Beberapa kali sebelumnya ia juga pernah melakukan hal yang membuatku tidak habis pikir, seperti lupa arah meski sudah beberapa kali melewati jalan yang sama.

Sekitar empat puluh menit kemudian ia akhirnya muncul di pintu kafe dengan wajah yang terlihat lelah. Rambutnya sedikit acak dan langkahnya seperti orang yang baru menempuh perjalanan panjang tanpa peta yang jelas. Namun anehnya ia justru terlihat seperti seseorang yang berhasil menyelesaikan sesuatu yang penting.

Aku menyambutnya dengan campuran lega dan kesal yang sulit dijelaskan. Ia duduk dengan tenang lalu tersenyum seolah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Ketika aku bertanya kenapa begitu lama, ia mulai bercerita dengan penuh keyakinan tentang bagaimana ia tidak menemukan kafe dan akhirnya harus mencari jalan sendiri.

Ia mengatakan bahwa setelah keluar dari masjid, ia menyadari tidak membawa telepon genggam. Ia hanya mengingat satu hal sederhana yaitu aku ingin makan ubi brulee di sebuah kafe. Dengan modal ingatan itu ia berjalan menyusuri beberapa jalan sambil mencoba mencari tempat yang cocok tanpa benar benar tahu tujuan pasti.

Di tengah perjalanannya ia melihat penjual teh poci di pinggir jalan dan memutuskan untuk meminjam telepon dari orang yang ada di sana. Ia menggunakan telepon itu untuk mencoba mencari informasi lokasi kafe yang ia ingat secara samar. Namun alih alih menghubungiku, ia justru memilih menghafal arah yang muncul di layar peta dan melanjutkan perjalanan sendiri.

Aku menatapnya semakin tidak percaya ketika ia mengatakan bahwa setelah itu ia kembali tersesat. Dalam pikiranku sangat jelas bahwa ia sebenarnya bisa langsung menghubungiku untuk meminta jemputan atau sekadar bertanya lokasi yang tepat. Namun ia hanya diam sejenak ketika aku menanyakan hal itu seolah baru menyadari sesuatu yang sederhana.

Suasana di antara kami menjadi hening beberapa detik sebelum ia menunduk dan tersenyum kecil. Ia mengakui bahwa ia memang tidak terpikir untuk meneleponku meskipun sebenarnya bisa. Saat itu aku hampir ingin tertawa sekaligus kesal karena semua kejadian terasa seperti kesalahan yang sangat mudah dihindari.

Namun cerita belum selesai di situ. Ketika aku masih mencoba memahami alur pikirannya, ia tiba tiba menatapku dengan ekspresi yang sedikit berbeda. Ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan cerita yang belum ia sampaikan sejak awal pertemuan kami di kafe itu.

Ia mengatakan bahwa sebenarnya ia sudah tahu lokasi kafe sejak awal. Ia bahkan melihatnya ketika kami masih di perjalanan menuju masjid. Ia sengaja tidak mengatakan itu kepadaku karena ada hal lain yang harus ia lakukan terlebih dahulu setelah salat selesai.

Aku terdiam ketika ia mulai menjelaskan bahwa setelah keluar dari masjid ia melihat seorang kakek yang kesulitan mencari alamat rumah cucunya. Tanpa banyak berpikir ia membantu orang itu berjalan dari satu tempat ke tempat lain selama hampir satu jam hingga akhirnya menemukan alamat yang dimaksud.

Ia mengaku tidak ingin aku menunggu terlalu lama sambil khawatir sehingga ia memilih membuat cerita tentang dirinya yang tersesat. Dengan cara itu ia berharap aku tidak merasa marah karena keterlambatan yang sebenarnya terjadi karena ia membantu orang lain.

Aku menatapnya lama tanpa berkata apa pun. Semua cerita tentang peta, hafalan arah, dan kebingungan di jalan tiba tiba terasa seperti lapisan yang menutupi alasan sebenarnya. Ia tidak sedang tersesat dalam arti yang sebenarnya, tetapi sedang memilih jalan yang menurutnya lebih penting daripada ketepatan waktu.

Di luar kafe, hujan mulai turun pelan seolah ikut meredakan suasana yang sempat tegang. Aku menyadari bahwa selama ini aku sering menilai cara berpikirnya dari sudut pandang yang terlalu sederhana. Ia mungkin tidak selalu praktis, tetapi ia selalu memiliki alasan yang tidak langsung terlihat.

Ketika kami akhirnya berjalan keluar dari kafe, aku baru menyadari bahwa ia masih mengingat satu hal kecil dari awal hari itu. Ia tersenyum sambil mengatakan bahwa ubi brulee yang aku inginkan ternyata sudah ia pesan lebih dulu tanpa aku sadari. Saat itu aku akhirnya mengerti bahwa cara pikirnya memang berbeda, tetapi tidak pernah benar benar tanpa tujuan.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News