Jangan Hanya Mengupas Angka

Terkini 16 Aug 2026 10:29 • 3 min read • 173 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Jangan Hanya Mengupas Angka
PerwirasatuNews.my.id, 15 Agustus 2026.Indonesia merdeka.Hari inikita diajak melihatsebuah pekerjaan sederhana:mengupas bawang.Tangan bekerjamata mena...


PerwirasatuNews.my.id, 15 Agustus 2026.
Indonesia merdeka.
Hari ini
kita diajak melihat
sebuah pekerjaan sederhana:

mengupas bawang.
Tangan bekerja
mata menatap
kulit demi kulit dilepaskan

Satu per satu.

Katanya,
inilah profesi masa depan.

Katanya pula,
pengupas bawang
bisa mendapatkan
ratusan ribu rupiah
bahkan jutaan rupiah
dalam sehari.

Luar biasa.

Jika benar demikian,
tentu pekerjaan sederhana
tak boleh lagi dipandang sebelah mata.

Sebab rezeki
tidak selalu datang
dari meja kantor.

Tidak selalu
dari gedung bertingkat.

Tidak selalu
dari jas dan dasi.

Kadang rezeki
datang dari tangan
yang bau bawang.

Dari kuku
yang menguning.

Dari mata
yang pedih
karena aroma
yang menusuk.

Dari pekerjaan
yang selama ini
dianggap sepele.

Tetapi...

Jangan hanya
mengupas bawang.

Kita juga harus
mengupas angka.

Mengupas
apa yang sebenarnya
terjadi di baliknya.

Berapa kilogram
yang mampu dikupas
seorang pekerja
dalam sehari?

Berapa upah
sesungguhnya
yang diterima?

Apakah dibayar
per kilogram?

Per karung?

Per hari?

Atau berdasarkan
sistem yang lain?

Berapa biaya
modalnya?

Berapa ongkos
peralatannya?

Berapa waktu
yang harus dihabiskan?

Dan yang paling penting—

berapa penghasilan bersih
yang benar-benar
masuk ke kantong?

Sebab angka
yang besar di layar
belum tentu
besar di dompet.

Angka
yang terlihat menggiurkan
belum tentu
menggambarkan
kehidupan sebenarnya.

Jangan sampai
rakyat dibuat terpukau
oleh angka jutaan,

sementara kenyataan
di lapangan
hanya menyisakan
keringat dan kelelahan.

Kita memang
harus mengubah
cara pandang.

Jangan meremehkan
pekerjaan sederhana.

Petani bukan pekerjaan rendah.

Buruh bukan pekerjaan rendah.

Pedagang bukan pekerjaan rendah.

Pengupas bawang
juga bukan pekerjaan rendah.

Yang rendah
bukan pekerjaannya.

Yang rendah
adalah cara pandang
yang merendahkan
orang yang bekerja.

Tetapi pemerintah
juga jangan berhenti
pada kalimat motivasi.

Jangan sekadar berkata:

"Carilah pekerjaan
yang menjanjikan."

Tetapi ciptakan
ekosistem
yang membuat pekerjaan
benar-benar menjanjikan.

Harga bawang
harus adil.

Rantai perdagangan
harus sehat.

Pekerja
harus mendapatkan
upah yang layak.

Petani
harus mendapatkan
harga yang pantas.

Pedagang kecil
harus mendapatkan
akses pasar.

Dan rakyat
harus mendapatkan
kesempatan
untuk naik kelas.

Sebab kemerdekaan
bukan hanya
bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga berarti
bebas dari kemiskinan
yang diwariskan.

Bebas dari pekerjaan
yang dibayar murah.

Bebas dari ketimpangan
yang membuat
sebagian orang
berlari terlalu jauh
sementara sebagian lainnya
berjalan tertatih-tatih.

Maka jika
profesi mengupas bawang
memang menjanjikan,

jadikanlah ia
benar-benar menjanjikan.

Bukan hanya
dalam gambar.

Bukan hanya
dalam judul.

Bukan hanya
dalam angka.

Tetapi nyata
di dapur rakyat.

Nyata
di pasar.

Nyata
di rekening pekerja.

Nyata
dalam kehidupan
keluarganya.

Karena rakyat
tidak membutuhkan
kemasan optimisme
yang terlalu manis.

Rakyat membutuhkan
kesempatan.

Rakyat membutuhkan
pekerjaan.

Rakyat membutuhkan
upah yang layak.

Rakyat membutuhkan
pasar yang adil.

Rakyat membutuhkan
kepastian.

Dan rakyat membutuhkan
pemerintah
yang tidak sekadar
mengatakan:

"Ini peluang!"

Tetapi mampu berkata:

"Ini ekosistemnya."

"Ini pasarnya."

"Ini perlindungannya."

"Ini jalannya."

"Silakan bekerja,
kami pastikan
keringatmu
tidak dihargai murah."

Indonesia merdeka.

Merdeka bukan berarti
semua pekerjaan
harus terlihat hebat.

Merdeka berarti
setiap pekerjaan halal
dapat menjadi jalan
menuju kehidupan
yang bermartabat.

Maka jangan malu
menjadi pengupas bawang.

Jangan malu
menjadi petani.

Jangan malu
menjadi buruh.

Jangan malu
menjadi pedagang kecil.

Jangan malu
bekerja dengan tangan.

Yang harus kita malu
adalah ketika
orang yang bekerja keras
tetap hidup dalam kesulitan,

sementara mereka
yang hanya pandai
mengemas angka
menikmati kemakmuran.

Jangan hanya
mengupas bawang.

Kupas pula
kemiskinan.

Kupas pula
ketimpangan.

Kupas pula
rantai perdagangan
yang tidak adil.

Kupas pula
data yang terlalu indah
untuk sebuah kenyataan
yang masih pahit.

Sebab bangsa besar
bukan bangsa
yang pandai membuat
pekerjaan sederhana
terlihat luar biasa.

Bangsa besar adalah
bangsa yang mampu
membuat pekerjaan sederhana
menjadi benar-benar
bernilai dan bermartabat.

Jika mengupas bawang
bisa menjadi jalan rezeki,

maka bukalah
jalan rezeki itu
selebar-lebarnya.

Jika tangan rakyat
mampu bekerja,

pastikan
kebijakan negara
tidak justru
mengikat tangannya.

Jika rakyat
mau bekerja keras,

jangan biarkan
hasil kerja kerasnya
habis di tengah jalan.

Indonesia merdeka.

Mari kita rayakan
kemerdekaan itu
bukan hanya
dengan slogan.

Tetapi dengan
memberi harga yang adil
kepada keringat.

Memberi tempat
kepada pekerjaan sederhana.

Memberi kesempatan
kepada rakyat kecil.

Dan memastikan
bahwa setiap tangan
yang bekerja

memiliki kesempatan
untuk mengangkat
martabat keluarganya.

Sebab pada akhirnya—

yang membuat seseorang
mulia bukan
pekerjaannya yang mewah,

melainkan
kejujuran tangannya
dan keberkahan
hasil kerjanya.

Jangan hanya
mengupas bawang.

Jangan pula
mengupas slogan.

Kupaslah kenyataan.

Dan jika angka
memang menunjukkan
sebuah peluang,

jadikan peluang itu
nyata.

Bukan sekadar
cerita.

Bukan sekadar
gambar.

Bukan sekadar
kata-kata.

Tetapi menjadi
kehidupan yang lebih baik

bagi rakyat

yang setiap hari
mengupas bawang
demi menyambung
kehidupan.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News