Jangan Biasakan Tidak Makan

Terkini 21 Aug 2026 05:26 • 4 min read • 84 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Jangan Biasakan Tidak Makan
PerwirasatuNews.my.id, 21 Agustus 2026.Tubuh yang kita miliki bukanlah milik mutlak kita, melainkan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang harus d...

PerwirasatuNews.my.id, 21 Agustus 2026.
Tubuh yang kita miliki bukanlah milik mutlak kita, melainkan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang harus dijaga, dipelihara, dan digunakan untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu, membiasakan diri tidak makan tanpa alasan yang dibenarkan syariat bukanlah sikap yang bijaksana. Islam mengajarkan keseimbangan, menjaga kesehatan, dan menjauhkan segala bentuk perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri sebagai wujud syukur atas nikmat kehidupan.

Sering kali seseorang menganggap tubuhnya sebagai milik pribadi sehingga merasa bebas memperlakukannya sesuka hati. Ada yang sengaja melewatkan waktu makan karena sibuk bekerja, mengejar target dunia, mengikuti gaya hidup tertentu, atau ingin memperoleh bentuk tubuh yang diinginkan. Bahkan ada pula yang terbiasa tidak makan seharian tanpa kebutuhan syar'i. Padahal, Islam memandang tubuh sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 195:

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:
"Dan infakkanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, serta berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa setiap muslim dilarang melakukan sesuatu yang dapat membinasakan dirinya sendiri. Membiarkan tubuh kekurangan nutrisi dalam waktu lama tanpa alasan yang dibenarkan dapat menjadi bagian dari perbuatan yang membahayakan diri apabila dilakukan terus-menerus.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu."

Larangan membunuh diri tidak hanya dipahami sebagai mengakhiri hidup secara langsung, tetapi juga mencakup segala bentuk perilaku yang mengarah pada kerusakan dan kehancuran tubuh secara sengaja. Karena itu, menjaga kesehatan merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Islam tidak pernah mengajarkan sikap berlebihan. Demikian pula dalam urusan makan. Seorang muslim tidak diperintahkan makan secara berlebihan hingga menimbulkan penyakit, namun juga tidak dibenarkan membiarkan tubuh kelaparan tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya:
"Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Ayat ini menunjukkan bahwa makan merupakan perintah Allah selama dilakukan secara wajar dan tidak melampaui batas. Keseimbangan menjadi prinsip utama dalam ajaran Islam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberikan tuntunan tentang pentingnya menjaga tubuh. Beliau bersabda:

إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Artinya:
"Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atas dirimu."

(HR. Al-Bukhari)

Hadis yang singkat namun sangat dalam maknanya ini mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak untuk mendapatkan makanan, minuman, istirahat, dan perawatan yang layak. Mengabaikan hak tubuh berarti menyelisihi petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

Artinya:
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikan."

(HR. Muslim)

Kekuatan yang dimaksud mencakup kekuatan iman, ilmu, mental, dan juga kekuatan fisik. Tubuh yang sehat akan lebih mudah digunakan untuk melaksanakan salat dengan khusyuk, berpuasa dengan baik, mencari nafkah yang halal, menolong sesama, berdakwah, dan berbagai amal saleh lainnya.

Karena itu, jangan biasakan meninggalkan makan hanya karena alasan kesibukan. Kesibukan tidak boleh mengalahkan kewajiban menjaga amanah Allah. Demikian pula jangan sengaja menahan lapar hanya karena mengikuti tren atau gaya hidup tertentu tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan. Jika seseorang ingin berpuasa, maka lakukanlah puasa yang diajarkan syariat, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, puasa Arafah, puasa Asyura, atau puasa Daud bagi yang mampu. Semua itu memiliki aturan, adab, dan tujuan ibadah yang jelas.

Sebaliknya, apabila tubuh memerlukan makanan untuk mempertahankan kesehatan dan menjalankan aktivitas ibadah, maka memenuhi kebutuhan tersebut merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Makan bukan sekadar memenuhi hawa nafsu, tetapi juga menjadi sarana agar tubuh tetap kuat dalam beribadah.

Setiap suapan makanan yang halal dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk memperoleh kekuatan dalam menaati Allah. Bahkan tidur, istirahat, dan makan seorang mukmin dapat berubah menjadi pahala ketika dilakukan dengan niat yang benar. Inilah indahnya Islam, yang menjadikan seluruh aktivitas kehidupan bernilai ibadah apabila dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Marilah kita membangun kesadaran bahwa tubuh ini hanyalah titipan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mata, telinga, tangan, kaki, jantung, paru-paru, otak, dan seluruh anggota badan bukanlah hasil ciptaan kita. Semuanya merupakan nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh sebab itu, jangan menyiksa tubuh dengan kebiasaan yang dapat melemahkannya. Berikan makanan yang halal dan baik, minuman yang cukup, waktu istirahat yang memadai, serta gunakan seluruh anggota tubuh untuk beribadah dan berbuat kebajikan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmat kesehatan, menjaga amanah tubuh dengan sebaik-baiknya, serta memanfaatkannya hanya untuk menggapai ridha-Nya. Dengan demikian, setiap detik kehidupan menjadi ladang amal yang mengantarkan kita menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News